Pada awal abad ke-20, hidup seorang tukang kayu yang bekerja pada suatu perusahaan peralatan rumah tangga yang terkemuka pada kala itu. Si tukang kayu adalah seorang karyawan favorit bosnya. Hasil karyanya selalu rapi, bagus, dan indah sehingga banyak orang yang tertarik untuk memesan peralatan kepada perusahaan. Tak heran bila bosnya mempercayakan bagian produksi kepadanya.
Suatu ketika, si tukang kayu merasa lelah akan pekerjaannya. Ia merasa sudah terlalu tua untuk melakukan pekerjaan sebagai tukang kayu. Ia menginginkan berhenti dari pekerjaannya dan ingin menikmati hari tuanya bersama istri dan anak-anaknya. Ia pun akhirnya mengungkapkan maksud hatinya kepada bosnya untuk mengundurkan diri sebagai karyawan. Bosnya kaget dan tidak mengira sama sekali bahwa karyawan terbaiknya akan mengundurkan diri. Bosnya berfikir sejenak dan bertanya kepada si tukang kayu ” Apa yang membuat anda mengundurkan diri? Apa gaji dan fasilitas yang saya berikan tidak cukup mensejahterakan Anda? ” “Tidak, Pak!” Jawab si tukang kayu. “Lalu apa yang membuat anda ingin berhenti?” tanya si Bos. “Saya sudah lelah pak… saya ingin menikmati hari tua bersama istri, anak, dan cucu saya…” jawab si tukang kayu dengan penuh hormat. Akhirnya si bos pun hanya bisa senyum menerima keputusan anak buah terbaiknya yang sudah membesarkan perusahaannya.
Ada satu permintaan terakhir dari si bos kepada si tukang kayu sebelum ia berhenti dari pekerjaannya. Si bos meminta si tukang kayu membuatkan sebuah rumah, dimana semua peralatan dan bahannya sudah tersedia. Si bos menyiapkan kayu jati terbaik untuk membangun rumah itu. Si tukang kayu pun menerima permintaan bosnya namun tidak dengan ikhlas seperti dulu tetapi dengan nada terpaksa. Hari demi hari ia lalui pekerjaan terakhirnya dengan keterpaksaan. Segala bentuk kayu yang akan dijadikan rumah ia kerjakan dengan biasa-biasa saja bahkan lebih mirip ia kerjakan sebagai tukang kayu amatiran yang baru belajar. Tidak ada lagi jiwa si tukang kayu yang dulu, yang rapi garapannya, dan mengedepankan keindahan serta kekuatan hasilnya. Dan akhirnya sampailah hari yang dinanti, hari batas waktu si tukang kayu membuat rumah.
Hari itu cuaca mendung, mungkin sebentar lagi turun hujan, si bos turun dari mobilnya sambil membawa kunci rumah yang telah dibuat oleh si tukang kayu. Rumah itu kelihatan sederhana, bahkan lebih dari sederhana alias RSSS (rumah sangat sederhana sekali). Tidak ada corak yang indah dan manis selayak rumah garapan sang maestro kayu yang melekat pada julukan si tukang kayu. Si bos pun mendekati perlahan si tukang kayu dan menyapa si tukang kayu dengan nada sopan dan lembut. “Assalammu’alaikum …” kata si bos sambil memeluk dan menyalami si tukang kayu dengan penuh kekeluargaan. “Bagaimana pak, sudah selesaikah garapan yang saya minta?” kata si bos. “Alhamdulillah bos, dah selesai… tapi ya hasilnya seperti yang bos lihat…” jawab si tukang kayu dengan nada yang memelas. “Terimakasih pak, sudah menyelesaikan permintaan saya” si bos menjawab sambil mengeluarkan sebuah kunci. “Pak, ini adalah kunci rumah ini, kunci ini untuk bapak sebagai tanda terima kasih saya atas kerja keras bapak selama bertahun-tahun membesarkan perusaan saya. “Silahkan rumah ini bapak tinggali bersama istri, anak, dan cucu bapak karena rumah ini sekarang menjadi milik bapak” kata si bos dengan nada bahagia dan terharu. Si tukang kayu sungguh kaget dan kecewa, tidak menyangka sama sekali rumah yang ia kerjakan ternyata untuk dirinya. Si tukang kayu sangat menyesal karena dia tidak mengerjakan rumah itu dengan mengerahkan segala kemampuannya. Dalam relung hatinya yang terdalam ada bisikan “seandainya aku mengetahui kalau rumah itu akan menjadi milikku aku pasti akan mengerjakannya dengan penuh kesempurnaan”. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, si tukang kayu pun menerima kunci dan rumah tersebut dengan penuh kekecewaan. Akhirnya, si tukang kayu menikmati hari tuanya bersama keluarganya di rumah yang ia buat sendiri. Rumah yang sangat sederhana sekali seperti garapan tukang kayu amatiran. Ia telah memanen hasil yang ia tanam ketika membuat rumah tersebut dengan penuh katerpaksaan dan kemalasan.
Ada hikmah yang bisa kita ambil dari kisah si tukang kayu di atas. Bahwa setiap orang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia usahakan. Apabila kita menanam kebaikan di dunia ini maka kita akan mendapatkan kebaikan pula di akhirat nanti. Apa bila kita menanam keburukan di dunia ini maka kita pun akan mendapatkan keburukan di akhirat nanti.
Tidak hanya diakhirat saja kita memanen apa yang telah diusahakan. Banyak sekali kisah orang sukses dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, teknologi, maupun bidang lainnya yang mereka semua harus memalui usaha kerja keras selama bertahun-tahun dan penuh kesabaran. Tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini, semuanya butuh proses. Begitu juga dengan tingkat ketaqwaan kita, butuh proses yang lama dan panjang untuk mencapai surga_NYA. Butuh perjuangan keras tiada henti untuk berpegang teguh pada tali ALLAh. Di bulan sahrur mubarok ini (bulan ramadhan), bulan yang penuh rahmat, maghfiroh, dan pembebasan dari api neraka merupakan mamentum tepat untuk menggembleng iman kita menuju tingkat ketaqwaan yang haqiqi. Marilah kita berlomba-lomba menanam benih-benih surga yang akan kita panen diakhirat nanti. Mari kita puasakan diri kita, bukan hanya sekedar puasa jasmani (tidak makan & minum) tetapi juga puasakan rokhani kita untuk tidak melakukan dosa kecil maupun besar. Semoga dengan “digodog” selama satu bulan kita dapat memalui 11 bulan lainnya dengan penuh iman dan taqwa. Amin… SELMAT MENUNAIKAN PUASA!